Melihat dari Dekat Proses Produksi Cokelat di Krakakoa Lampung

Yarika, staf Krakakoa Lampung, menjelaskan bahwa kemasan cokelat menggunakan motif khas Indonesia, seperti batik dan hewan yang dilindungi.

Tribunlampungwiki.com / Resky Mertarega Saputri
Beberapa produk cokelat produksi Krakakoa Lampung. 

Tribunlampungwiki.com, Bandar Lampung - Proses produksi cokelat memakan waktu yang cukup lama.

Setidaknya ada 10 proses yang harus dilalui sebelum produk cokelat bisa dikonsumsi sebagai camilan.

Yarika, staf Krakakoa Lampung, menjelaskan proses produksi cokelat di Krakakoa.

Dalam produksinya, Krakakoa menjalankan sistem farmer to bar, dimana ada 10 proses dari train farmers-nya.

Sistem farmer to bar terdiri dari training, harvesting (panen), fermentasi, pengeringan, sorting, roasting, winnowing (pemisahan biji sesuai kualitasnya), grinding atau refining, tempering atau molding, dan terakhir wrapping.

Baca juga: Batik Tulis Tapis di Assyafa Dibanderol Rp 1,5 Juta

"Dari sini kita kasih pendidikan kepada para petani. Kita kasih bantuan alat-alat dan kita ajarkan ke mereka cara membuat dan menghasilkan biji kakao yang baik kualitasnya," jelasnya, Kamis (2/9/2022).

"Kemudian kita juga membelinya dengan harga dua hingga tiga kali lipat lebih dari harga pasar. Karena kita juga mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia sesuai dengan misi kita."
 
Dari sekian banyak proses tersebut, kata dia, proses fermentasi menjadi yang terpenting.

Proses fermentasi pada cokelat akan berpengaruh terhadap terciptanya rasa dari cokelat itu sendiri.

Proses yang memakan waktu enam hingga tujuh hari tersebut akan memunculkan acidity alami cokelat secara natural atau organik.

Proses fermentasi juga yang menentukan perbedaan antara cokelat artisan dengan cokelat biasa.

Selain fermentasi, proses roasting juga menentukan cita rasa pahit alami dari sebuah cokelat.

Proses roasting cokelat itu dari Krakakoa pun dijemur secara natural di alam terbuka dengan bantuan matahari serta menggunakan alas, dan atap sebagai pelindung.

Berbeda dengan kopi, proses roasting cokelat hanya ada satu jenis.

Roasting cokelat dikatakan cukup hanya dilihat dari perubahan warna biji cokelat yang menjadi kehitaman.

Barulah setelah roasting dirasa cukup, untuk selanjutnya biji cokelat diolah hingga menjadi beragam varian.

Proses farmers to bar tersebut yang rupanya menjadi pembeda antara cokelat ini dengan cokelat yang biasa dikonsumsi sebagai camilan sehari-hari.

Jadi tak heran jika produk cokelat yang diproduksi Krakakoa ini terbilang mahal.

Tak kalah unik, Krakakoa saat ini juga memiliki produk yang kandungan dark chocolate-nya hingga 100 persen.

Produk yang terdiri dari cokelat murni ini bernama arenga.

Arenga sendiri merupakan jenis gula merah yang ditanam secara organik kemudian dicampurkan dengan cokelat Sulawesi.

Produk cokelat Krakakoa memiliki kemasan yang terbilang cukup unik.

Sebab, Krakakoa menggunakan desain bermotif batik dan hewan khas Indonesia yang dilindungi.

Menurut Yarika, staf Krakakoa Lampung, cara itu bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan alam Indonesia melalui produk cokelatnya.

“Desain packaging kami sesuaikan dengan motif yang Indonesia banget. Jadi melalui packaging juga kami mencoba perkenalkan cokelat Indonesia kepada masyarakat,” ujar Yarika.

( Tribunlampungwiki.com / Resky Mertarega Saputri )

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR
1691 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved