Cerita Arman AZ Menelusuri Jejak Pembuat Kamus Bahasa Lampung Pertama

Arman AZ pernah masuk 30 besar nominasi Lomba Cipta Cerpen yang diadakan Dinas Pendidkan Nasional-KSI-CWI 2003.

Tribunlampungwiki.com / Resky Mertarega Saputri
Sastrawan Lampung Arman AZ. 

Tribunlampungwiki.com, Bandar Lampung - Sastrawan Lampung Arman Arifin Zainal atau Arman AZ pernah mengikuti beberapa lomba penulisan.

Bahkan ia pernah masuk 30 besar nominasi Lomba Cipta Cerpen yang diadakan Dinas Pendidkan Nasional-KSI-CWI 2003 dan cerpennya masuk antologi Yang Dibalut Lumut.

"Karena memang orang tua dulunya suka beli koran hingga akhirnya terbiasa juga untuk membaca dan akhirnya menulis. Mulai semangat ketika lulus SMA dan fokus di dunia sastra dan budaya. Alhamdulillah sudah ada beberapa penghargaan yang diraih," ucap Arman AZ, Jumat (5/8/2022).

Berikut sederet penghargaan yang pernah diraih Arman AZ.

Arman AZ pernah masuk nominasi lima besar Sayembara Penulisan Cerpen Tingkat Nasional yang diadakan Lampung Post tahun 2004.

Baca juga: Sosok D Zawawi Imron, Penyair asal Madura

Pada tahun 2010 ia juga mendapat juara harapan III Lomba Penulisan Cerita Rakyat Tingkat Nasional yang diadakan Pusat Bahasa.

Dari aktivitas menulis cerpen, Arman pernah beberapa kali diundang menghadiri kegiatan sastra, seperti Kongres Cerpen Indonesia III di Bandar Lampung tahun 2003.

Ia juga pernah ke acara Temu Sastrawan MPU di Banten tahun 2004.

Selain itu mengikuti acara Kongres Cerpen Indonesia IV Riau tahun 2005, MPU Bali 2006, Kongres Cerpen Indonesia V Banjarmasin 2007, Pertemuan Sastrawan Nusantara Kedah, Malaysia 2007, Kongres Komunitas Sastra Indonesia Kudus, 2008, dan Temu Sastrawan Indonesia di Ternate 2011.

Menelusuri Jejak Herman Neubronner van der Tuuk

Sejak 2011 Arman AZ menekuni biografi dan jasa Herman Neubronner van der Tuuk, orang Indo-Belanda yang pertama kali membuat kamus bahasa Lampung.

Hingga kini, kamus setebal hampir 600 halaman itu tidak sempat diterbitkan dan naskah aslinya tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden (Belanda).

Arman menduga belum banyak pihak di Lampung tahu perihal ini, termasuk pemerintah dan kalangan akademisi.

Ia berpikir masih banyak ruang-ruang kosong dalam sejarah dan budaya Lampung yang seharusnya bisa diungkap masyarakat Lampung.

Hingga akhirnya Arman memutuskan untuk mencari sesuatu yang berharga dan menemukan sosok HN van der Tuuk.

"Kamus itu disusun saat Van der Tuuk menetap di Lampung tahun 1868 hingga 1869," kata Arman. 

Dari hasil penelitiannya, Arman menemukan fakta bahwa Van der Tuuk adalah sosok yang sangat berjasa bagi upaya pelestarian sejumlah bahasa daerah di Indonesia.

Namun sangat disayangkan bahwa Van der Tuuk dilupakan bahkan tidak diketahui, termasuk pemerintah, akademisi, peneliti, dan budayawan.

HN van der Tuuk bukan hanya berjasa buat Lampung, ia juga yang pertama kali menyusun kamus Bahasa Batak, pertama kali menyusun kamus bahasa Bali, dan juga pernah membuat kamus Melayu.

Ia merupakan orang Eropa pertama yang mengunjungi Danau Toba dan bertemu Sisingamangaraja.

Hasil-hasil penelitiannya bagi bahasa nusantara dan kekerabatan bahasa Austronesia menjadi acuan peneliti-peneliti sesudahnya.

Karena banyak, seluruh koleksi Van der Tuuk (naskah, manuskrip, surat, dan lain-lain) dikirim ke Belanda sebanyak tujuh kali pengiriman lewat kapal laut.

Dalam sebuah seminar tentang bahasa yang diadakan sebuah kampus, pembicara yang notabene birokrat menyatakan bahwa orang-orang Belanda ke Lampung hanya untuk tanam kopi dan mengambil hasil bumi.

"Saya miris sekaligus geli mendengarnya tidak semua orang Belanda datang untuk menjajah. Van der Tuuk justru membenci penjajahan. Dan secara tidak langsung Van der Tuuk juga telah menyelamatkan dan melestarikan bahasa Lampung lewat kamus yang dibuatnya," ucap Arman.

Berkaitan dengan naskah-naskah Van der Tuuk, Arman bahkan mengunjungi Palembang, Bengkulu, Lahat, dan Muaradua.

Menurutnya ada fakta menarik cerita rakyat Sumatera bagian selatan, Dayang Rindu dan Anak Dalom, manuskripnya ada versi Lampung dan beraksara Lampung.

Hingga akhirnya tahun 2012, Arman mencari makamnya di Peneleh, Surabaya.

"Saat ke Peneleh seorang kepala makam mengatakan bahwa belum pernah ada orang Indonesia yang mencari makam Van der Tuuk," ujarnya.

Hingga akhirnya saat foto makam Van der Tuuk diunggah di Facebook, banyak pihak merespons positif bahkan ada kalangan akademisi linguistik yang baru mengetahui bahwa makamnya di Surabaya.

( Tribunlampungwiki.com / Resky Mertarega Saputri )

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR
1644 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved