Sejarah Masjid Agung Al Furqon Bandar Lampung, Digagas Pembangunannya oleh Presiden Soekarno

Masjid Agung Al Furqon Bandar Lampung beralamat di Jalan Diponegoro, Gulak Galik, Kecamatan Teluk Betung Utara, Kota Bandar Lampung.

Tribunlampungwiki.com / Resky ms
Masjid Agung Al Furqon Bandar Lampung 

TRIBUNLAMPUNGWIKI.COM, BANDAR LAMPUNG - Inilah sejarah Masjid Agung Al Furqon Bandar Lampung yang merupakan masjid terbesar di Lampung.

Masjid Al Furqon yang beralamat di Jalan Diponegoro, Gulak Galik, Kecamatan Teluk Betung Utara, Kota Bandar Lampung.

Heri Darso, selaku Sekretaris Masjid Agung Al Furqon mengatakan, masjid ini digagas langsung oleh Presiden Soekarno, pada tahun 1950-an.

"Pada tahun 1950-an itu Soekarno membeli lahan untuk masjid yang tepat di jantung Kota Bandar Lampung dari warga setempat. Soekarno kemudian mewakafkan lahan tersebut untuk masjid," terang Heri Darso, Sabtu, (16/4/2022).

Sepuluh tahun kemudian, pada tahun 1961, di lahan tersebut diletakan fondasi, batu bata, dan tahapan lainnya untuk pembangunan sebuah masjid dan menjadi awal pembangunan Masjid Agung Al-Furqon.

Mulanya rencana pembangunan ini akan berlokasi di Pasar Bambu Kuning.

Karena beberapa permasalahan, akhirnya lokasi tersebut tidak dijadikan pilihan.

Oleh karenanya dipilih Lungsir menjadi lokasi, karena berada di antara dua kota Tanjung Karang dan Teluk Betung.

Baca juga: Masjid Besar Baiturrohman Bandar Lampung, Berawal dari Bangunan Sederhana Tahun 1980

Baca juga: Sejarah Masjid An Nur Gunung Terang Bandar Lampung

Masjid Agung Al Furqon sendiri melalui beberapa tahapan pembangunan, mulai dari pembangunan awal dipimpin Muhammad Mangoendiprojo, yang saat itu merupakan Residen Lampung yang ke 5.

Tanah tersebut dibeli dari empat bersaudara bernama Djalis, Djasmika, Djamani, dan Djalaluddin bin Lidin.

Tanah tersebut seluas 3.858 M2 dengan harga Rp 50 ribu. 

Kemudian selanjutnya membeli tanah dari keluarga Maqad seluas 57.000 M2 dengan harga Rp 150 ribu.

Harga kedua tanah tersebut memang tidak berimbang karena sebagian tanahnya tidak dijual, melainkan diwakafkan. 

Uang yang dipakai untuk membeli merupakan bantuan dari pemerintah dan juga dari masyarakat Islam Kresidenan Lampung sehingga tanah tersebut disebut wakaf umat.

Hingga saat ini pembangunannya terdiri dari 5 tahap.

Tahap pertama yaitu pada tahun 1958 hingga 1969.

Bangunan masjid pertama saat itu memiliki luas 20x25 meter dengan atap datar cor tanpa kubah.

Selain itu belum memiliki mihrab atau tempat imam memimpin salat. 

Pembangunan tahap dua yaitu membangun lantai 2, pengadaan kubah, dan mihrab berukuran 5x5 meter.

Kemudian pada tahun 1996 dilakukan pembangunan tahap 3.

Yaitu pembangunan lantai ketiga, teras dan 2 tangga depan, tempat wudhu, dan toilet 2 lantai.

Selain itu pembangunan atap kubah menjadi 3 trap susun atas khas Walisongo.

Kemudian dibangun pula menara yang menjadi ikon masjid setinggi 50 meter.

Selanjutnya tahun 2011 hingga 2014 dilakukan pembangunan tahap 4.

Pembangunan dengan melakukan penataan halaman masjid dan pemasangan lampu hias masjid.

Dan tahap terakhir yang saat ini sedang berlangsung, yaitu pembangunan menara kedua Masjid Al Furqon Bandar Lampung.

Pembangunan menara kedua Masjid Al Furqon Bandar Lampung memiliki tinggi dua kali lipat dari menara pertama yaitu 114 meter.

Jika menara pertama yang dijadikan ikon itu memiliki tinggi 50 meter, menara kedua ini memiliki tinggi 114 meter.

( Tribunlampungwiki.com / Resky Mertarega Saputri )

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR
1536 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved