Masjid Jami Al-Yaqin Masjid Tertua Bandar Lampung, Dipindah dengan Cara Digotong di Tahun 1912

Masjid Jami Al-Yaqin didirikan jauh sebelum meletusnya Gunung Krakatau, yakni pada 1808 silam. Sempat dipindah dengan cara digotong beramai-ramai.

Tribunlampungwiki.com / Resky ms
Masjid Jami Al-Yaqin didirikan jauh sebelum meletusnya Gunung Krakatau, yakni pada 1808 silam. 

TRIBUNLAMPUNGWIKI.COM, BANDAR LAMPUNG - Berikut ini masjid tertua di Bandar Lampung yang bisa jadi rujukan safari Ramadan 2022 nanti.

Yakni Masjid Jami Al-Yaqin Bandar Lampung yang merupakan masjid tertua dan bersejarah.

Masjid Jami Al-Yaqin terletak di Jalan Raden Intan, Nomor 125, Bandar Lampung.

Masjid tua ini didirikan jauh sebelum meletusnya Gunung Krakatau, yakni pada 1808 silam.

Sebelum menjadi masjid megah seperti saat ini, terdapat perpindahan lokasi dan beberapa kali renovasi.

Baca juga: Masjid Tawakkal Way Dadi Gelar Buka Puasa Bersama Selama Ramadan 2022

Baca juga: Sejarah Masjid Tawakkal Way Dadi Sukarame, Berdiri Sejak Tahun 1960

Ustaz Rahmat Nur selaku Ketua Takmir menjelaskan bahwa dahulunya lokasi Masjid Jami Al-Yaqin ini berada di persimpangan pasar bawah Bandar Lampung

"Dulunya lokasinya masjid ini berada di simpang 4 Pasar Bawah dan awalnya itu hanya sebuah surau yang terbuat dari bambu beratapkan alang-alang," kata Rahmat, Jumat, (25/3/2022).

Tepat pada tahun 1882 diperluas hingga menjadi bangunan berbentuk mushola yang dibangun oleh orang-orang Bengkulu yang merantau ke Tanjung Karang.

Pada tahun 1912 tepatnya bulan September bangunan tersebut dipindah dengan cara digotong beramai-ramai bersama warga sekitar di mana surau tersebut dipindah tepat di pinggir kali yang bersebelahan dengan tanah milik alm. H. Muchyiddin (suku Lampung) dan alm. H. Muhammad Yaqin (suku Bengkulu).

Kemudian kedua almarhum tersebut sepakat untuk mewakafkan tanah mereka untuk kepentingan surau tersebut.

Sehingga pada tahun 1923 diperbesar menjadi sebuah masjid dengan tanah berukuran kurang lebih 30x37m dengan luas kurang lebih 1.107 meter persegi.

Ketika itu bangunannya masih semi permanen dan berdinding setangah bata, setengah papan, lantai semen, atap genteng, juga tanpa kubah dan menara.

Baca juga: Keunikan Masjid Jami Asy Syuhada Bandar Lampung, Miliki Kubah Bernuasa Timur Tengah

Baca juga: Ramadan 2022 Masjid Jami Asy Syuhada Bandar Lampung Gelar Kajian Subuh Rutin

Kubahnya baru berdiri pada 1952, dengan bentuk susun tiga ke atas mirip kubah Masjid Agung Demak.

Hal ini melambangkan makna syariat, tarikat dan makrifat.

Pembangunan terus dilakukan.

Pada 1963, Masjid Jami Al-Yaqin direnovasi secara menyeluruh menjadi permanen termasuk kubahnya dibentuk bulat, sehingga terlihat seperti saat ini.

Kala itu, tim pemugarannya terdiri atas K.H. Ali Thasim selaku ketua panitia pembangunan, Mr. Hoffmann selaku arsitek dari Jerman, serta para pelaksana.

Dirasa masih perlu perbaikan, pada 1990 Masjid Jami Al-Yaqin kembali direnovasi.

Dilakukan pengecatan total, pemasangan lampu hias, pembuatan taman di bagian belakang dan depan masjid.

Bagian kayu, atap dan genteng juga diperbaiki.

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR
1512 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved