Sosok Raymond Westerling, Komandan Pasukan Kolonial Belanda yang Pimpin Pembantaian Westerling

Raymond Westerling, komandan pasukan Kolonial Belanda yang pimpin Pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan. Raymond meninggal karena penyakit jantun

zoom-inlihat foto Sosok Raymond Westerling, Komandan Pasukan Kolonial Belanda yang Pimpin Pembantaian Westerling
historia.id
Sosok Raymond Westerling, Komandan Pasukan Kolonial Belanda yang Pimpin Pembantaian Westerling

TRIBUNLAMPUNGWIKI.COM - Sosok Raymond Westerling komandan pasukan Kolonial Belanda yang pimpin Pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan.

Raymond lahir di Istanbul Ottoman pada 31 Agustus 1919 dan meninggal dunia pada 1987 di usia 68 tahun.

Raymond meninggal karena penyakit jantung.

Baca juga: Sosok Letnan Jenderal Witramin, Kapten Pembela Tanah Air (PETA)

Baca juga: Biodata Oemar Said Tjokroaminoto, Tokoh Nasionalis Indonesia

Jenazahnya dimakamkan di Purmerend, Belanda.

Di batu nisan miliknya terdapat tulisan “Voormalig Commandant van het K.S.T. Rakjat Memberi Beliau Gelar Ratu Adil, Rechvaardige Vorst” dan dibubuhi lambang Korps Speciale Tropen. 

Raymond Westerling merupakan anak kedua dari pasangan Paul Westerling dan Sophia Moutzou.

Sejak muda ia telah mendapatkan pelatihan khusus di Skotlandia.

Pada 26 Agustus 1941 ia masuk ke dinas militer di Kanada.

Kemudian pada 27 Desember 1941 Raymond bekerja di Brigade Prinses Irene di Wolverhampton.

Baca juga: Profil Slamet Riyadi, Sosok Tentara Indonesia dan Pahlawan Nasional asal Surakarta

Baca juga: Nabila Maharani Geluti Olahraga Tinju, Bermanfaat Turunkan Berat Badan

Raymond Westerling adalah salah satu orang dari 48 orang Belanda yang mendapatkan latihan khusus di Commando Basic Training Centre di Achnacarry dan Pantai Skotlandia.

Pelatihan militer tersebut adalah persiapan yang dilakukan untuk mengirim para tentaranya untuk menjadi komandan pasukan Belanda yang ada di Indonesia.

Peristiwa Westerling

Raymond Westerling tiba di Makassar, Sulawesi Selatan pada 5 Desember 1946.

Ia memimpin 120 tentara yang berasal dari pasukan khusus DST.

Westerling dan pasukannya kemudian mendirikan markas di Mattoangin.

Di wilayah ini, Westerling menyusun strategi untuk menumpas para pemberontak menggunakan caranya sendiri.

Ia bersama dengan pasukan khususnya mulai melakukan operasi di sini.

Pasukannya yang bernama DST yang ada di bawahnya adalah pasukan khusus yang memiliki reputasi dan disegani bak dai dalam di luar negeri.

Pada 5 Januari 1948 DST diubah namanya menjadi Korps Speciale Troepen – KST (Korps Pasukan Khusus).

Dan setelah itu Westerling mengumpulkan orang-orang Indonesia yang kemudian dieksekusi mati.

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved