Profil Jenderal Soedirman, Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia

Profl Jenderal Soedirman yang berhasil mengalahkan kolonial Belanda melalui perjanjian Lingharjati dan Renville.

kompas.com
Profil Jenderal Soedirman 

TRIBUNLAMPUNGWIKI.COM - Profil Jenderal Soedirman, Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia, sekaligus seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Jenderal Soedirman dikenal sebagai sosok yang dihormati di Indonesia berkat jasanya yang telah menggugurkan para penjajah.

Ia dilantik pada tanggal 18 Desember 1945 dan selama tiga tahun melawan tentara kolonial Belanda.

Baca juga: Sosok Letnan Jenderal Witramin, Kapten Pembela Tanah Air (PETA)

Baca juga: Biodata Oemar Said Tjokroaminoto, Tokoh Nasionalis Indonesia

Bahkan ia berhasil mengalahkan mereka melalui sebuah perjanjian yang disusun olehnya yang dikenal sebagai perjanjian Lingharjati dan Renville.

Soedirman merupakan anak dari pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem.

Ia lahir di Purbalingga, 24 Januari 1916.

Sejak kecil, Soedirman diasuh oleh pamannya yang bernama Raden Cokrosunaryo, karena ia memiliki kondisi keuangan yang jauh lebih baik dibandingkan keluarganya.

Soedirman pun diadobsi oleh pamannya yang seorang priyayi dan ia diberi gelar kebangsawanan suku Jawa, menjadi Raden Soedirman.

Soedirman tumbuh besar menjadi seorang siswa rajin dan aktif dalam kegiatan sekolah serta mengikuti organisasi Islam.

Selain itu, ia juga diajarkan etika dan tata krama priyayai serta kesederhanaan sebagai rakyat biasa.

Baca juga: Nabila Maharani Geluti Olahraga Tinju, Bermanfaat Turunkan Berat Badan

Baca juga: Profil Zara Leora, Pemeran Zara dalam Film Kau dan Dia

Pendidikan

Soedirman merupakan siswa yang rajin dan aktif di sekolahnya.

Namun tahun ketujuhnya bersekolah, ia harus dipindah dari sekolah milik pemerintah ke sekolah menengah milik Taman Siswa.

Pada tahun kedelapan, ia kembali dipindah sebab sekolah Taman Siswa ditutup oleh Ordonasi Sekolah Liar, sistem yang didirikan pemerintah Hindia Belanda, karena sekolah tersebut diketahui tidak terdaftar.

Di sekolah ia banyak dikenal oleh guru-guru dan teman-temannya sebagai seorang murid serta teman yang tekun dan pintar.

Berkat ketekunannya tersebut ia tetap diizinkan untuk melanjutkan sekolah meskipun ia tidak mampu membayar setelah kematian sang paman yang membuatnya jatuh miskin.

Sepeninggalan ayah tirinya, ia tetap melanjutkan dedikasinya dalam dunia pendidikan.

Ia menjadi guru praktik di Wirotomo dan menjadi anggota Perkumpulan Siswa Wirotomo, klub drama, dan kelompok musik.

Bahkan Soedirman juga turut membantu mendirikan cabang Hizboel Wathan, sebuah organisasi Kepanduan Putra milih Muhammadiyah.

Setelah lulus dari Wirotomo, Soedirman melanjutkan pendidikannya selama satu tahun di Kweekschool (sekolah guru) yang dioperasikan Muhammadiyah di Surakarta, namun berhenti karena masalah biaya.

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved