Profil Slamet Riyadi, Sosok Tentara Indonesia dan Pahlawan Nasional asal Surakarta

Profil Slamet Riyadi, tentara Indonesia dan pahlawan nasional berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Slamet Riyadi meninggal dunia pada 4 November 1950.

Tribunnews.com
Profil Slamet Riyadi 

TRIBUNLAMPUNGWIKI.COM - Profil Slamet Riyadi, tentara Indonesia dan pahlawan nasional berasal dari Surakarta, Jawa Tengah.

Slamet Riyadi lahir di Donokusuman, Surakarta, pada 28 Mei 1926.

Slamet Riyadi adalah putra dari Idris Prawiropralebdo, seorang perwira anggota legiun Kasunanan Surakarta.

Baca juga: Profil Nabila Maharani, Petinju Wanita Asal Lampung yang Ikut PON XX Papua

Baca juga: Profil Sugondo Djojopuspito, Sosok Pemimpin Kongres Pemuda II

Pada 10 Juli 1950, Slamet Riyadi ditugaskan untuk menumpas pemberontakan Kapten Abdul Aziz di Makassar dan Republik Maluku Selatan (RMS) yang dipelopori Dr. Soumokil.

Tanggal 4 November 1950, saat sedang berusaha menumpas pemberontakan RMS di Gerbang Benteng Victoria, Ambon, pasukan Slamet Riyadi bertemu segerombolan pasukan yang bersembunyi di benteng tersebut dengan mengibarkan bendera merah putih.

Melihat bendera tersebut, Riyadi memerintahkan pasukannya untuk menghentikan penyerangan karena ia yakin bahwa mereka adalah Tentara Siliwangi.

Namun, dugaan Slamet Riyadi salah.

Gerombolan itu adalah para pemberontak RMS yang akhirnya menyerangnya.

Baca juga: Sosok Sidik Kertapati, Seorang Pejuang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Baca juga: Biodata Tan Malaka, Sosok Pahlawan Nasional Indonesia dan Ketua PKI

Sepak Terjang

Pada 14 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu.

Slamet Riyadi dan teman-temannya yang bersekolah di sekolah pelayaran lebih memilih meninggalkan asrama dan menggendong senjata.

Ia memilih untuk pulang ke Surakarta dan melakukan perlawanan terhadap Belanda yang kala itu kembali lagi ke Indonesia untuk menjajah.

Slamet Riyadi melakukan kampanye secara gerilya melawan Belanda.

Ia adalah orang yang bertanggung jawab atas resimen 26 di Surakarta.

Ketika Agresi Militer Belanda I terjadi, Slamet Riyadi memimpin pasukannya yang berada di beberapa daerah seperti Surakarta, Ambarawa dan Semarang.

Pada September 1948, ia diangkat untuk memimpin empat batalion tentara dan satu batalion tentara pelajar.

Dua bulan kemudian, Belanda melakukan agresi militer kedua yang ditujukan kepada Yogyakarta.

Yogyakarta ditargetkan lantaran pada saat itu Yogyakarta menjadi Ibu Kota Republik Indonesia.

Untuk mengatasi hal itu, Slamet Riyadi menggunakan strategi "berpencar dan menaklukkan".

Tidak butuh lama, hanya empat hari ia bersama pasukannya berhasil menghalau pasukan kolonial Belanda.

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR
1136 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved