Biodata Jusuf Kunto Merupakan Tokoh Golongan Muda yang Menculik Soekarno

Jusuf Kunto mengawali karier militernya dengan menjabat Staf Oemoem I (SO-I) di Markas Besar Tentara (MBT) di Benteng Vredenburg, Yogjakarta

kompas.com
Biodata Jusuf Kunto 

TRIBUNLAMPUNGWIKI.COM - Biodata Jusuf Kunto merupakan tokoh golongan muda peristiwa Rengasdengklok yang menculik Soekarno dan Hatta tanggal 16 Agustus 1945.

Jusuf Kunto adalah desersi tentara Jepang.

Bahkan, setelah kemerdekaan RI, Jusuf Kunto bergabung ke Badan Keamanan Rakyat (BKP).

Baca juga: Sosok Achmad Soebardjo Salah Satu Tokoh Pahlawan Nasional Indonesia

Baca juga: Sejarah Monumen 66 Lampung, Mengenang Adanya Perjuangan Masyarakat Lampung

Ia mengawali karier militernya dengan menjabat Staf Oemoem I (SO-I) di Markas Besar Tentara (MBT) di Benteng Vredenburg, Yogjakarta. Saat Agresi Militer Belanda terjadi, ia memindahkan markasnya dari Jogja ke Pakem.

Mayor Jusuf Kunto meninggal dunia pada 2 Januari 1949, saat berusia 28 tahun.

Sebelumnya, ia mengalami radang paru-paru tanpa adanya bantuan dokter dan obat.

Jusuf Kunto disemayamkan di perkuburan Badran, dekat kuburan Cina di sebelah barat Stasiun Tugu, Jogjakarta.

Jusuf Kunto lahir di Salatiga, 8 Agustus 1921.

Dulu, ia memiliki nama asli Kunto. Namun, pada tahun 1937, namanya berubah menjadi Jusuf Kunto yang diambil dari nama kakak sepupunya, Mr. Jusuf Suondo.

Baca juga: Profil Alimin Sosok Tokoh Pergerakan Kemerdekaan Indonesia

Baca juga: Biodata Arif Rahman Hakim, Aktivis yang Ditembak saat Demonstrasi Mahasiswa Menuntut Tritura

Ayahnya merupakan mantri kesehatan di tambang timah Bangka.

Jusuf Kunto menempuh pendidikannya di Hollandsch Chinesche Scuool, yang merupakan sekolah khusus untuk keturunan Tionghoa, kemudian melanjutkan di Honeegere Bugerschool (HBS) Semarang pada 1933.

Peristiwa Rengasdengklok

Pada 16 Agustus 1945, penculikan Soekarno dan Hatta adalah puncak pertentangan golongan tua dan muda dalam memproklamasikan kemerdekaan Indoesia.

Ia bersama Sukarni dan beberpa anggota PETA menjemput Soekarno dan Hatta untuk dibawa ke Rengasdengklok

Sejak kejadian itu, akhirnya golongan muda dan tua sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Munculnya golongan muda dan tua ini merupakan strategi untuk memudahkan memahami peristiwa proklamasi.

Kedua golongan ini sepakat bahwa kemerdekaan Indonesia harus segera diproklamasikan.

Golongan tua pun berpendapat bahwa proklamasi dapat diwujudkan tanpa pertumpahan darah, yang mengikuti langkah-langkah yang dipersiapkan sejak pembentukan BPUPKI dan PKKI.

Namun, golongan muda ingin segera melakukan proklamasi kemerdekaan, meskipun harus terjadi pertumpahan darah.

Kehidupan Pribadi

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved