Sosok Egy Massadiah, Wartawan dan Penulis Buku yang Dekat dengan Kalangan Prajurit

Sosok Egy Massadiah seorang wartawan senior dan penulis, ia memiliki buku berjudul Top Eksekutif Indonesia dan Top Pengusaha Indonesia.

Tribunnews.com
Sosok Egy Massadiah 

TRIBUNLAMPUNGWIKI.COM - Sosok Egy Massadiah seorang wartawan senior dan penulis.

Egy lahir dari orang tua suku Bugis, Sengkang Wajo. Jiwa petualang, semangat merantau yang mereka sebut sompe, melandasi setiap langkahnya.

Selain menjadi jurnalis, ia juga seorang penulis.

Baca juga: Beauty Vlogger Nanda Arsyinta, Runner Up 1 The A Team National Cheerleading Championship

Baca juga: Perjalanan Karier Nassar KDI, Penyanyi Dangdut yang Juga Presenter

Buku pertama yang ditulisnya adalah Srikandi: Sejumlah Wanita Indonesia (tahun 90-an), disusul buku berikutnya: Top Eksekutif Indonesia dan Top Pengusaha Indonesia.

Dia lahir di Sengkang, Sulawesi Selatan, pada 27 Desember 1966.

Egy Massadiah juga berkarier di bidang panggung teater, sinematografi, dan lainnya.

Dia pernah mendampingi Letjen TNI Dr (HC) Doni Monardo sebagai Tenaga Ahli Kepala BNPB (2019 – 2021).

Karier Awal

Semasa bersekolah di SD 2 Teladan Sengkang ia aktif dalam kepramukaan. Saat Kelas 6 SD ia menjadi juara cerdas cermat yang ditayangkan di stasiun TVRI Makassar.

Ia merantau ke Jakarta tahun 1983 ketika usianya masih belia. 

Baca juga: Profil Gofar Hilman, YouTuber yang Dituding Lakukan Pelecehan: Keluar dari PNS Pilih Bisnis

Baca juga: Profil Ardina Rasti Pemeran Stella di Film Virgin

Ia berusaha sekuat tenaga untuk bertahan, dan apa pun ia kerjakan.

Jadilah Egy memiliki pengalaman sederet profesi, dari sopir, kuli panggung, kenek tukang batu, pembantu rumah tangga, hingga pengamen jalanan.

Dia pantang pulang sebelum berhasil. Oleh karena itu, apa pun jenis pekerjaan dianggapnya sebagai batu loncatan untuk menggapai mimpinya.

"Prinsipnya, jangan umbar kepedihan dan kepahitan hidupnya saat kamu sedang dan masih berjuang. Nanti saja setelah kamu melewati semua itu," ujarnya.

Biduk hidup mulai menuju jalur yang sesuai dengan suara hatinya, justru ketika ia menekuni dunia teater.

Sempat bergabung dengan beberapa grup teater seperti Adinda dan Belinda (Yose Marutha Effendi - Renny Dajoesman), akhirnya Egy tertambat di Teater Mandiri yang dipimpin Putu Wijaya pada tahun 1983.

Egy menunjukkan totalitasnya di Teater Mandiri. Aneka pekerjaan produksi teater dan peran pernah ia lakoni. Filosofi Teater Mandiri - "Bertolak dari yang ada", ia camkam sebagai pedoman dalam jiwa dan batinnya.

Sebagai “cantrik” yang baik, Egy senantiasa haus ilmu. Semua diskusi yang menyerempet lintas bidang, mulai dari budaya, sosial, sampai politik, dan nilai-nilai kehidupan ia ikuti di sanggar Teater Mandiri.

Putu Wijaya yang penulis produktif pun coba ditirunya. Egy belajar dan berlatih menulis, dari sastra, opini, hingga reportase jurnalistik

Panggung Jurnalistik

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved