Reformasi Masjid Jami Al-Yaqin, dari Basis Perlawanan Penjajah Belanda hingga Wadah Kegiatan Agama

Masjid Jami' Al-Yaqin tak hanya bergulat di bidang keagamaan, melainkan menjadi basis perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Penulis: Kiki Novilia
Editor: heri sulis
Tribunlampung.co.id Kiki Novilia
Tampak dalam Masjid Jami' Al-Yaqin, Senin, 12 April 2021. 

TRIBUNLAMPUNGWIKI.COM, BANDAR LAMPUNG - Dinobatkan sebagai masjid bersejarah, Masjid Jami Al-Yaqin tak hanya bergulat di bidang keagamaan.

Melainkan menjadi basis perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Dalam hal ini K.H. Ali Taslim yang merupakan santri dari K.H. Gholib menjadi panglima hizbullah Tanjungkarang dalam masa agresi Belanda I tahun 1946.

Pergerakan tersebut merupakan perkumpulan penentang penjajahan bernafaskan semangat islami.

Seiring kuatnya persatuan umat muslim kala itu, pada agresi Belanda II tahun 1948, pejuang di Masjid Jami' Al-Yaqin bertahan.

Walaupun sempat kocar-kacir akibat serangan Belanda yang menggunakan senjata canggih, para ulama dan pengikutnya mampu mempertahankan markas tersebut.

Saat ini Masjid Jami Al-Yaqin terus menjalankan perannya sebagai wadah keagamaan bagi masyarakat setempat.

Mulai dari pengajian bagi anak-anak, ibu-ibu sampai pergerakan Remaja Islam Masjid (RISMA).

Untuk basis pengajian bahkan disiapkan ruangannya sendiri; anak-anak di basement, sedangkan untuk para ibu ada di sisi kanan ruang solat utama.

"Guru ngajinya ada ada sekitar 6, dari warga kita atau juga dari luar yang ahli Qur'an," ucap ketua pengurus Masjid Jami' Al-Yaqin, Rahmat Nur, kepada Tribunlampungwiki.com, Senin, 12 April 2021.

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved