Sosok Lampung

Profil Widyastuti Murniasih Ryantini, Desainer Lampung Pemilik Label Yasmin Wiwid

Beken dengan nama panggung Yasmin Wiwid, Widyastuti Murniasih Ryantini memulai kariernya sejak Januari 2015 silam.

Penulis: Kiki Novilia
Editor: heri sulis
dok.Widyastuti Murniasih Ryantini
Desainer Lampung Widyastuti Murniasih Ryantini (Yasmin Wiwid). 

TRIBUNLAMPUNGWIKI.COM, BANDAR LAMPUNG - Widyastuti Murniasih Ryantini merupakan designer muda asal Lampung.

Beken dengan nama panggung Yasmin Wiwid, ia memulai kariernya sejak Januari 2015 silam.

"Itu mulai punya brand, label sendiri," katanya kepada Tribunlampungwiki.com, Selasa, 29 Desember 2020.

Ekskul Tata Busana

Satu di antara produk milik Yasmin Wiwid.
Satu di antara produk milik Yasmin Wiwid. (Dokumentasi Widyastuti Murniasih Ryantini)

Sejak kecil, sosok Wiwid sudah tertarik pada dunia fashion.

Ia menyenangi busana-busana yang unik kemudian memadupadankannya.

"Mix and match pakaian," katanya.

Sampai di bangku SMP, Wiwid muda mulai belajar menjahit dari sang ibu.

Hobi tersebut terus berjalan hingga SMA.

Ia pelajari lebih dalam terkait jahit-menjahit di ekskul tata busana.

"Pertama kali buat itu tunik sama legging gitu, jaitannya oh my God," katanya sambil tertawa.

Meski begitu, ia tak goyah.

Justru lebih aktif membuatkan baju untuk para anggota keluarganya.

Wiwid kemudian melanjutkan pendidikannya ke Fashion Design & Pattern Drafting Esmod Jakarta.

Di sana, ia digembleng cara memproduksi karya, pemasaran, serta .

"Berkesempatan belajar langsung juga ke desinger senior dan dan fashion show," ucapnya.

Wiwid mengungkapkan, hal menarik yang ia rasakan selama menjadi fashion designer adalah bebas dari rutinitas menjenuhkan.

"Nggak yang itu itu aja," ucapnya.

Ia dituntut terus berkreasi, mengikuti tren busana saat ini, dan berkarya secara kreatif.

Yasmin Wiwid

Satu di antara produk milik Yasmin Wiwid.
Satu di antara produk milik Yasmin Wiwid. (Dokumentasi Widyastuti Murniasih Ryantini)

Label miliknya yang bertajuk Yasmin Wiwid, secara garis besar memproduksi busana-busana muslim.

Terutama busana untuk perempuan, seperti dress, celana pallazo, kullot, dan lain-lain.

"Aku basisnya modern and ethnic, jadi nuansanya feminim," ucapnya.

Unsur etnik yang diusung adalah budaya Lampung, yakni sulam usus, tapis, serta batik Lampung.

Ibu satu anak ini berargumen, ingin melestarikan budaya lokal lewat karya-karyanya.

"Gimana caranya kita pakai yang bernuansa etnik tapi nggak terkesan kuno," ujar dia.

Hal ini tak terlepas dari para pendahulunya yang menginspirasi.

Satu di antaranya Anne Avantie.

"Dia buat kebaya, tapi tetap disesuaikan dengan modernisasi," imbuhnya.

Butuh waktu yang beragam dalam membuat sebuah karya.

Wiwid mengatakan, bergantung pada konsep yang digunakan.

"Kalau handmade, bisa sampe 3-4 bulan," ujarnya.

Sampai saat ini Yasmin Wiwid masih belum memiliki butiknya sendiri.

Penjualan difokuskan secara online.

"Ada niatan untuk buka offline tahun ini, tapi kehalang pandemi," terang dia.

Kontrol Hulu hingga Hilir

Desain Karya Widyastuti Murniasih Ryantini
Desain Karya Widyastuti Murniasih Ryantini (Dokumentasi Widyastuti Murniasih Ryantini)

Memilih jalan hidup sebagai seorang designer, Wiwid bertanggung jawab dari hulu hingga hilir pembuatan karyanya.

Mulai dari konsep, menggambar pola, memotong, menjahit, hingga akhirnya finishing.

"Tapi tetep dibantu dengan karyawan yang lain," ucapnya.

Saat pengerjaan, Wiwid terus memantau pekerjaan tiap karyawannya.

Ia tak ingin, hasil akhirnya tidak maksimal karena kurangnya pengawasan.

Ecoprint

Sejak pandemi, Yasmin Wiwid sempat mengalami golakan penjualan.

Karena itu, Wiwid memutar otak menciptakan inovasi baru agar tetap eksis di dunia fashion.

Akhirnya pada Mei 2020 silam, ia banting setir menggunakan teknik produksi seni cetak natural atau yang akrab dikenal sebagai ecoprint.

Ecoprint dipilih karena keunikannya dan lebih ramah lingkungan.

"Bisa nyerap banyak tenaga kerja juga," sambung dia.

Bedanya dengan teknik biasa adalah prosesnya yang lebih lama.

"Produksi satu jilbab bisa sampai 3 hari," katanya.

Yang menarik, konsep baru tersebut justru memberikan dampak yang lebih baik.

"Nggak nyangka bisa survive dan meningkat penjualannya," ucapnya.

Tak butuh waktu lama, Wiwid akhirnya memutuskan untuk terus menggunakan ecoprint sebagai identitas dari labelnya.

"Aku pengen ecoprint jadi signaturenya Yasmin Wiwid," ucapnya.

1000 Karya

Berkarier sebagai fashion designer selama lebih dari 5 tahun, Wiwid berhasil menelurkan lebih dari 1000 karya.

Ia mengaku tak menghitung secara pasti jumlahnya karena sudah terlampau banyak.

"Dulu kerja sama dengan hijab story untuk supply ke 5 kota, yang masing-masing harus masukkin 150 produk," bebernya.

Wiwid merasa tak pernah kehabisan inspirasi.

"Karena bisa didapetin dari mana aja," ucapnya.

Biasanya, ia melakukan traveling untuk mencari ide-ide segar atau sekedar browsing lewat internet.

Sejauh ini, ada satu karya yang menurutnya paling berkesan.

Di awal kariernya, ia pernah membuat karya yang harus dibordir terlebih dahulu kemudian diolah hingga selesai.

"Waktu itu sekitar 3 bulanan," ucapnya.

Namun, setelah dipamerkan di fashion show, tanpa disangka dibeli oleh Ibu Gubernur Lampung.

"Rasanya kayak paid off, terbayar capeknya," ucapnya.

Selain itu, karyanya juga dipakai oleh Ibu Bupati Mesuji.

Yang paling penting, karyanya harus nyaman dipakai dan terjangkau.

Dilirik Pasar Brunei

Beberapa waktu silam, Wiwid sempat mengadakan pameran di negara tetangga, Brunei Darussalam.

Warga lokal di sana ternyata amat menyenangi konsep tapis yang dia usung.

"Mereka ketika pesta suka yang glamour, dan tapis cocok untuk itu," ucapnya.

Di samping itu, selebgram lokal juga sempat meramaikan.

Menyasar pasar luar negeri ia katakan memang memiliki karakter tersendiri.

Jika di Lampung terbiasa mengenakan pakaian yang terkesan glamour, maka berbeda dengan warga negara lain.

"Mereka biasanya nyari yang sesimpel mungkin dan memudahkan untuk bergerak," katanya.

Meski begitu, Wiwid lebih membidik negara-negara sesuai jenis produknya yakni busana muslim.

"Pengen banget ke Malaysia," ucapnya.

Kopor Kosong

Sejauh ini, Wiwid sudah berpartisipasi di banyak fashion show.

Seperti Jakarta dan Lampung.

"Wajib untuk fashion show, itu promosi utama buat para fashion designer," ucapnya.

Namun, kini Wiwid menyesuaikan diri pada situasi pandemi.

Di tahun ini pertama kalinya ia mengikuti fashion show secara virtual/daring.

Tapi tanpa disangka, antusias dari para penonton tetap sama.

Banyak yang tertarik pada karya-karyanya hingga ludes terjual

"Pulang-pulang bawa gantungan sama kopor kosong," ucapnya.

Wiwid bahkan diminta kembali keesokan harinya untuk memamerkan karyanya.

"Bukan cuma aku yang seneng, tapi tim juga," ucapnya.

Ozilicious

Selain menggeluti dunia fashion, Wiwid juga memiliki bisnis lain bertajuk Ozilicious.

Ozilicious merupakan produk camilan sale pisang.

Bisnis yang dimulai sejak satu tahun terakhir ini juga sarat akan inovasi.

Jika sale pisang lazimya hanya disajikan secara natural, maka Wiwid mengolahnya bersama baluran coklat bubuk serta coklat lumer.

"Jadi bukan orang tua aja yang suka, anak muda dan anak-anak juga suka," ucapnya.

Bersama tim produksi miliknya yang mencapai 5-10 orang, Ozilicious sudah sampai di Kalimantan.

Kini, Wiwid sedang mencanangkan produknya tersebut bisa tembus ke minimarket.

"Lagi diurus perizinannya," ucapnya.

Ia berharap, ke depannya dapat lebih membawa manfaat bagi sekitar.

Seperti menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain lewat seluruh produk-produknya.

Biodata:
1. Nama lengkap: Widyastuti Murniasih Ryantini
2. Nama sapaan: Wiwid
3. Nama brand: Yasmin Wiwid
4. TTL: Sekampung, 18 Juli 1995
5. Nama orang tua: Slamet Ryanto Saputro Ashari dan Tini Susilowati
6. Domisili: Pesawaran, Lampung
7. Riwayat Pendidikan:
- SDN 1 Sumberrejo Lampung Timur
- MTs - MA Diniyyah Putri Lampung
- D1 Fashion Design & Pattern Drafting Esmod Jakarta
- S1 Kewirausahaan Institut Teknologi dan Bisnis Diniyyah Lampung

(Tribunlampungwiki.com/Kiki Novilia)

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved