Luthfiyya Dyah Rhainaratri Jadi Juri di Busan International Kids and Youth Film Festival

Di tahun 2019 lalu, sineas Lampung Luthfiyya Dyah Rhainaratri menjadi juri internasional di ajang Busan International Kids and Youth Film Festival.

Penulis: Kiki Novilia
Editor: Ami Heppy
Dokumentasi Luthfiyya Dyah Rhainaratri
Potret sineas Lampung Luthfiyya Dyah Rhainaratri. 

TRIBUNLAMPUNGWIKI.COM, BANDAR LAMPUNG - Prestasi membanggakan datang dari ranah perfilman Lampung.

Di tahun 2019 lalu, sineas Lampung Luthfiyya Dyah Rhainaratri menjadi juri internasional di ajang Busan International Kids and Youth Film Festival (BIKY).

Di festival film anak terbesar di Asia tersebut, Luthfiyya Dyah Rhainaratri dipercaya memberikan penilaian di cabang Ready Action 18.

"Itu bagian dari Busan International Film Festival untuk versi remaja usia 18 tahun," ucap Luthfiyya Dyah Rhainaratri kepada Tribunlampungwiki.com, Jumat, 18 September 2020.

Terkejut

Potret sineas Lampung Luthfiyya Dyah Rhainaratri.
Potret sineas Lampung Luthfiyya Dyah Rhainaratri. (Dokumentasi Luthfiyya Dyah Rhainaratri)

Berkesempatan terlibat langsung di BIKY, rupanya hal yang mengejutkan pula bagi perempuan ayu yang akrab disapa Rhaina ini.

Ia bercerita, awalnya ia bermaksud untuk mengikuti film camp yang diselenggarakan.

Namun, ketika melamar, Rhaina justru ditawari menjadi juri.

"Aku kaget kan, kok tiba-tiba jadi juri," kenangnya.

Sebelumnya, Rhaina memang sudah aktif dalam proses pembuatan film anak-anak di TVRI.

Ia sertakan film-film yang pernah diproduksi.

"Mungkin itu pertimbangan dari mereka," katanya.

Tiap tahunnya, BIKY memang rutin mengundang juri internasional.

Dan di tahun tersebut belum mendapatkan kandidat.

Tawaran dari event film paling besar se-Asia tersebut sempat membuat Rhaina menimbang-nimbang.

"Apakah aku bisa," katanya menirukan pikirannya di kala itu.

Namun, karena tak ingin membuat panitia menunggu lama, akhirnya ia memberikan konfirmasi bersedia.

Di sana, Rhaina langsung bergabung bersama dengan juri lainnya.

Blue Carpet

Didaulat menjadi juri tamu dari luar Korea Selatan, Rhaina praktis menjadi salah satu tamu VIP di sana.

Bersama dengan para sineas lain, ia berkesempatan berjalan di blue carpet.

"Aku kira sineasnya aja, tapi ternyata aku termasuk juga," ucapnya.

Sedikitnya, ada 20 film dari berbagai negara yang harus ia nilai.

Jumlah tersebut adalah yang berhasil lolos kurasi dari ratusan judul yang berpartisipasi.

Poin-poin yang disoroti oleh Rhaina antara lain alur cerita, sinematografinya, tata artistik, sound dan lain-lain.

"Penilaiannya ya cantik secara keluruhan, apik," ucapnya.

Ia juga berkesempatan memberikan pidato di sana.

Produksi Profesional

Potret sineas Lampung Luthfiyya Dyah Rhainaratri.
Potret sineas Lampung Luthfiyya Dyah Rhainaratri. (Dokumentasi Luthfiyya Dyah Rhainaratri)

Selama 5 hari di Korea Selatan, Rhaina mengaku banyak pengalaman menarik yang ia rasakan.

Yang paling berkesan adalah menonton kualitas film remaja Korea yang luar biasa.

Seluruh komponen dalam filmnya ia nilai sudah sangat matang untuk usia 18 tahun.

"Udah bisa dibilang profesional, karena semua perintilannya kelar (bagus)," ucap dia.

Hal ini menambah pengetahuannya akan kualitas perfilman Korea Selatan yang bagus secara menyeluruh.

"Yang kita tau kan film Korea bagus bagus, tapi biasanya kan yang versi dewasanya," katanya.

Sebagai juri, Rhaina berpendapat, kualitas tersebut tak terlepas dari peranan pemerintah setempat.

Sejak kecil, anak-anak di Korea sudah mendapatkan perhatian penuh untuk bisa memproduksi film.

"Selain emang skilnya mumpuni, baik alat-alat maupun dukungannya juga mumpuni," ucapnya.

Art Director

Bergelut di dunia perfilman, Rhaina mengatakan memang menyukai menonton film.

Dari genre thriller, horor, drama, keluarga hingga romance, menjadi favoritnya.

Di samping menonton, juga sudah banyak film yang diproduksi Rhaina bersama rekan-rekannya.

"Sekitar 6 atau 7 yang aku di belakang layar," ucapnya.

Dari jumlah tersebut, posisi yang dilakoni Rhaina meliputi art director, tim art, maupun runner.

"Terakhir jadi art director," ucapnya.

Posisi tersebut selaras dengan latar belakang pendidikannya yaitu sarjana kriya seni di Institut Seni Indonesia (ISI).

Ia tata sedemikian rupa agar visual yang dihasilkan dalam film menjadi apik.

"Aku suka sama printilan-printilan, hal-hal yang cantik, interior, menurutku cantik," ucapnya.

Menjadi tim artistik, terdapat beberapa hambatan yang ia temui.

Terutama soal budget.

"Kita tu sering dikasih budget yang minimalis, tapi hasilnya harus maksimal," katanya sambil tertawa.

Menghadapi masalah tersebut, Rhaina kerap memutar otak agar semuanya bisa berjalan maksimal.

"Kita set bagian yang bakal shoot aja," katanya.

Biasanya, Rhaina memilih set yang serasi dengan film yang digarap.

Ia lebih suka mengatur setnya menjadi simpel, tetapi tetap indah.

Hingga kini, perempuan kelahiran 11 Mei 2001, ini menegaskan dirinya menyenangi bidang tersebut dan ingin terus menekuninya.

Ia bahkan menobatkan art director Gundala sebagai idolanya, yakni Wencislaus de Rozari.

"Keren banget, karena kemarin menang art director di Piala Citra," terangnya.

Seimbangkan Kuliah dan Karier

Potret sineas Lampung Luthfiyya Dyah Rhainaratri.
Potret sineas Lampung Luthfiyya Dyah Rhainaratri. (Dokumentasi Luthfiyya Dyah Rhainaratri)

Saat ini Rhaina sedang menempuh pendidikannya di jurusan Kriya Seni, Institut Seni Indonesia.

Di sana, ia terlatih membuat karya yang cantik dan kerajinan tangan secara eksklusif.

Bukan perkara mudah untuk bisa menyeimbangkan kedua hal tersebut.

Biasanya, Rhaina tak mengambil project film ketika dalam masa aktif kuliah.

"Ambilnya pas libur," katanya.

Akan tetapi, ia tak menampik jika pernah mengambil project ketika masa kuliah.

Ia akhirnya mengambil jatah izin yang disediakan di masing-masing mata kuliah.

"Aku ambil ketika keadaannya beneran mendesak, kayak syuting itu," ucap dia.

Bendahara Klub Nonton

Potret sineas Lampung Luthfiyya Dyah Rhainaratri.
Potret sineas Lampung Luthfiyya Dyah Rhainaratri. (Dokumentasi Luthfiyya Dyah Rhainaratri)

Tak hanya aktif berkarya dan kuliah, Rhaina juga aktif di Klub Nonton, perkumpulan para penikmat film yang ada di Bandar Lampung.

Di sana, putri maestro dongeng Lampung Iin Muthmainnah ini menjabat sebagai bendahara.

"Aku intinya bendahara, tapi bisa sering juga untuk bantuin tugas yang lain," ucapnya.

Memiliki banyak kegiatan yang menguras tenaga, pikiran dan waktu, Rhaina mengaku keluarganya berperan penuh dalam perkembangan kariernya.

Mulai dari dukungan moral, promosi dan lain-lain diberikan oleh keluarga tercinta.

"Keluarga aku suportif," ucap dia.

Ke depannya, Rhaina menegaskan akan terus berada di ranah perfilman.

Apapun posisinya kelak, ia ingin terlibat di dalam pembuatan karya audio visual tersebut.

Biodata:

  • Nama lengkap: Luthfiyya Dyah Rhainaratri
  • TTL: Bandar Lampung, 11 Mei 2001
  • Nama ayah dan ibu: Ivan Sumantri Bonang dan Iin Muthmainnah
  • Riwayat pendidikan:

1. SD Alam Lampung
2. SMPN 4 Bandar Lampung
3. SMKN 5 Bandar Lampung
4. S1 Institut Seni Indonesia (ISI)

Baca juga: Amanda Rizka Putri, Duta Bahasa Provinsi Lampung 2020

(Tribunlampungwiki.com/Kiki Novilia)

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR
607 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved