Giri Marhara

Giri Marhara merupakan sosok pegiat lingkungan yang berhasil mengentaskan 2 ton sampah.

Penulis: Kiki Novilia
Editor: Ami Heppy
Dokumentasi Giri Marhara
Potret pegiat lingkungan Giri Marhara saat membersihkan sampah. 

TRIBUNLAMPUNGWIKI.COM, BANDAR LAMPUNG - Giri Marhara merupakan sosok pegiat lingkungan.

Sejak duduk di bangku menengah, mahasiswa jurusan Sosiologi Universitas Lampung ini tergugah untuk mewujudkan Indonesia bebas limbah.

Kini, sosok yang akrab disapa Hara tersebut berhasil menggerakkan organisasi kebersihan nonprofit bernama Alcedo Sanitizing Force (ASF) dan berhasil mengentaskan 2 ton sampah.

Latar Belakang

Namanya Giri Marhara, atau akrab disapa Hara.

Lahir di Jakarta, 19 September 1997, putra pasangan Sastrawan Manullang dan Yeni Mulyani ini menjadi seorang pegiat lingkungan sejati.

Ia mengaku, ketertarikannya di bidang tersebut menurun dari orang tua.

Ibunya yang merupakan pengajar di konservasi lingkungan IPB mendidik dirinya untuk tak membuang sampah sembarangan dan menjaga ekosistem.

Merampungkan kuliah di Lampung, sosok inspiratif yang satu ini kerap bolak-balik dari tempat asalnya di Bogor.

Piket Tiap Hari

Potret pegiat lingkungan Giri Marhara saat membersihkan sampah.
Potret pegiat lingkungan Giri Marhara saat membersihkan sampah. (Dokumentasi Giri Marhara)

Sejak tahun 2010 silam, atau tepatnya ketika duduk di kelas satu sekolah menengah, Hara mulai terjun ke dunia  persampahan.

Kala itu, untuk pertama kalinya ia mengenal sistem piket kelas.

Sebab, ketika duduk di sekolah dasar, seluruh urusan kebersihan ditangani oleh para penjaga sekolah.

Dari waktu ke waktu, Hara merasa teman-temannya perlahan lepas tangan dari tanggung jawab mingguan tersebut.

Ia yang ketika itu dijadwalkan piket di hari Selasa, merasa terusik ketenangan batinnya.

Hara akhirnya memberikan tantangan pada dirinya sendiri.

Setiap pulang sekolah, ia memberanikan diri membersihkan kelasnya.

Setahun berjalan, reputasi Hara sebagai sang pelopor pembersih sampah mulai banyak dikenal seantero sekolah.

Pasukan Pembersih

Bukan tanpa hambatan menjadi seorang pejuang kebersihan.

Hara mengaku banyak komentar-komentar negatif tentang aktivitas yang ia lakukan.

Beruntung, di bangku sekolah menengah tersebut ia memiliki beberapa teman yang mendukungnya secara penuh dan ikut bersih-bersih sepulang sekolah.

Adanya kesamaan sudut pandang dan visi mengenai lingkungan, gerakan tersebut kemudian meluas.

Dari yang awalnya membersihkan kelas, menjadi seluruh sekolah.

Hal inilah yang menjadi cikal-bakal terciptanya organisasi kebersihan nonprofit bernama Alcedo Sanitizing Force (ASF).

Mereka membentuk logo, slogan dan perintilan-perintilan lain layaknya organisasi pada umumnya.

Alat Pencapit Sampah

Potret pegiat lingkungan Giri Marhara bersama rekannya saat membersihkan sampah.
Potret pegiat lingkungan Giri Marhara bersama rekannya saat membersihkan sampah. (Dokumentasi Giri Marhara)

Ketika masuk SMA, Hara segera mencari kembali orang-orang yang sevisi dengannya.

Karena di sekolah barunya kembali tak dijumpai sistem piket, Hara beserta para pendekar kebersihan lainnya akhirnya ekspansi ke luar sekolah seperti sungai dan jalan raya.

Dari kegiatan-kegiatan mulia tersebut, kemudian lahirnya ide untuk membuat alat pencapit sampah bernama ARP.

Alat tersebut dirakit sendiri menyerupai pedang panjang.

Enjoy

Sejak tahun 2013, Hara berhasil mengentaskan total 2 ton sampah.

Data tersebut selalu diperbarui tiap kali Hara mengambil sampah.

Mengumpulkan sedemikian banyak sampah, Hara mengaku mengalami banyak kesulitan.

Yang paling utama adalah pandangan negatif masyarakat.

Komentar-komentar tersebut bukannya sekali dua kali melintas di telinga Hara.

Namun, ia berpegang teguh pada prinsip bahwa apapun yang ia lakukan memang berasal sepenuhnya dari nuraninya.

Mindset tersebut kemudian mengantarkannya menjadi seseorang yang lebih tangguh.

Cleanup Staterpack

Potret pegiat lingkungan Giri Marhara saat membersihkan sampah.
Potret pegiat lingkungan Giri Marhara saat membersihkan sampah. (Dokumentasi Giri Marhara)

Menjunjung tinggi konsep fun di dalam gerakannya, Hara dan rekan-rekannya memiliki seperangkat alat (staterpack) sendiri ketika akan membersihkan sampah.

Mulai dari hoodie, sabuk, trashbag, hingga alat pencapit sampah berbentuk pedang.

Selama bertugas, seluruh perlengkapan tersebut dimaksimalkan layaknya seorang prajurit perang.

Ketika ditanya mengapa harus menggunakan hoodie, Hara mengatakan pakaian tersebut adalah yang paling cocok.

Jika ke hutan tidak digigit nyamuk, dan kalau ke pantai kulit juga tidak menjadi gosong.

Tudung dari hoodie tersebut dapat mencegah sengatan terik matahari.

Yang menarik, selama bersih-bersih tersebut bahkan memilki seninya sendiri seperti dansa, dan jaipongan.

Seni tersebut tak diniatkan dari awal melainkan improvisasi ketika di lapangan.

Mahasiswa tingkat akhir Universitas Lampung ini bahkan mendorong rekan-rekannya untuk mencari gayanya bersih-bersihnya sendiri.

Hal ini dilakukan agar suasana tetap santai dan tidak kaku.

Fokus Bersih-Bersih

Banyak yang bertanya pada Hara mengapa ia dan rekan-rekannya tak mendaur ulang sampah yang telah dibersihkan.

Ia menjawab, hal tersebut berada di luar kendalinya.

Tak menampik, mendaur ulang sampah merupakan tanggung jawab semua orang.

Namun, Hara mengatakan dirinya beserta para punggawa kebersihan tersebut akan fokus di bersih-bersih sampah dan menyerahkannya ke tempat pembuangan setempat.

ASF

Potret pegiat lingkungan Giri Marhara bersama rekan-rekannya saat membersihkan sampah.
Potret pegiat lingkungan Giri Marhara bersama rekan-rekannya saat membersihkan sampah. (Dokumentasi Giri Marhara)

Organisasi kebersihan nonprofit garapan Hara, Alcedo Sanitizing Force (ASF), memiliki filosofinya sendiri.

Nama alcedo merupakan nama arbitrer, yang filosofinya adalah burung, dan burung simbol agen penyeimbang ekosistem.

Terbentuk sejak beberapa waktu lalu, ASF memfasilitasi orang-orang yang ingin mengekspresikan kepeduliannya terhadap polusi plastik.

Menariknya, tak hanya bersih-bersih sampah, para punggawa ASF juga aktif menjadi pembicara di acara-acara lingkungan dan membuat alat pencapit sampah.

Digawangi 7 orang anggota, kegiatan ASF dihentikan untuk sementara waktu.

Kesadaran Masyarakat

Ketika ditanya bagaimana respon sang orang tua terhadap kegiatan yang ia lakukan, Hara mengaku kedua orangnya banyak membantu baik secara moral maupun finansial.

Sedangkan masyarakat sekitarnya sendiri memberikan respon yang beragam.

Ada yang memberikan respon positif, ada yang tidak acuh, dan bahkan negatif.

Hara menambahkan, sebenarnya kesadaran masyarakat setempat tergolong baik.

Hanya saja, kompleksnya permasalahan yang mereka hadapi baik dari segi pendidikan, ekonomi, akses terhadap informasi serta sedikit pengaruh budaya membuat hal ini sulit dilakukan.

Biodata:

1. Nama Lengkap: Giri Marhara
2. Nama Panggilan: Hara
3. TTL: Jakarta, 19 September 1997
4. Nama Ayah dan Ibu: Sastrawan Manullang, Yeni Mulyani
5. Domisili: Bogor dan Lampung
6. Penghargaan: Juara 3 Lomba Vlog Lingkungan oleh KLHK
7. Riwayat pendidikan
- Nightcliff Primary School
- SD Insan Kamil
- SMPN 14 Bogor
- SMAN 9 Bogor
- Universitas Lampung

Sukses Jadi Pengusaha Muda, Havez Annamir Nyambi Jadi Ketua Komunitas Sosial

(Tribunlampungwiki.com/Kiki Novilia).

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved