Kenalan dengan Ahmad Audli Natakusuma, Pemuda Berprestasi Asal Lampung

Ahmad Audli Natakusuma adalah pemuda Lampung yang berprestasi di dalam dan luar negeri.

Penulis: Kiki Novilia
Editor: Ami Heppy
Dokumentasi Ahmad Audli Natakusuma
Seragam A-1 kontingen Indonesia peserta AISEP 2018. 

Mimpi tersebut terwujud ketika Vito berhasil menjadi perwakilan Lampung dalam program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) ke India (ASEAN-India Students Exchange Program/AISEP) di tahun 2018.

Keberangkatan Vito di ajang bergengsi tersebut menjadi jawaban atas doa-doanya setelah sempat gagal mendapatkan satu kursi yang disediakan.

"Tahun 2017 juga daftar, tapi cuma masuk ke runner up, jadi nggak bisa berangkat," katanya.

Tak sepenuhnya gagal, dari hasil tersebut Vito justru bersyukur karena berhasil menyingkirkan 100 pesaingnya yang juga merupakan pemuda potensial Lampung lainnnya.

Ia bahkan menjadi salah satu peserta termuda kala itu.

"Ketika kita mampu dan punya skill, usia cuma jadi sekedar angka, itu yang buat saya tambah percaya diri," jelasnya.

Di tahun selanjutnya, Vito kembali mengadu nasib dengan persiapan lebih matang dari tiga bulan sebelumnya.

Ia mengaku banyak bertanya dengan para alumni penerima PPAN, meminta tips dari mereka, serta mempersiapkan seluruh syarat pendaftaran semaksimal mungkin.

"Saya kalau mau daftar program tapi nanggung-nanggung, ngapain daftar," katanya.

Di tahun tersebut, akhinya Vito berhasil membawa pulang tiket ke India beserta predikat peserta paling muda dengan usia 21 tahun.

SUSIs

Potret Ahmad Audli Natakusuma saat kunjungan ke Microsoft Campus di Redmond, Washington DC, Amerika Serikat.
Potret Ahmad Audli Natakusuma saat kunjungan ke Microsoft Campus di Redmond, Washington DC, Amerika Serikat. (Dokumentasi Ahmad Audli Natakusuma)

Tak mudah puas dengan pencapaian sebelumnya, di tahun 2019 Vito kembali mengikuti program ke Amerika Serikat.

Program bernama Study of the U.S. Institutes (SUSIs) tersebut digelar selama lima minggu di Seattle, Washington DC, Amerika Serikat.

Diikuti oleh mahasiswa internasional dari negara-negara dengan jumlah penduduk serta isu penganggurannya tinggi seperti India, Brazil, Tunisia, Nigeria, Vito menjadi satu dari 4 perwakilan Indonesia.

Di sana, ia belajar tentang kepemudaan, pendidikan dan bagaimana cara menutup kesenjangan keterampilan yang ada di masyarakat (youth, education, and closing the skills gap).

"Gimana sih cara menutup skill gap di masyarakat, mengatasi pengangguran, dari sudut pandang pemudanya sendiri," katanya.

Namun, tak semudah membalikkan telapak tangan, banyak perjuangan yang harus dilalui Vito untuk bisa bergabung dengan perwakilan empat negara tersebut.

Sebelumnya, ia sempat mendaftar program Youth Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) di tahun yang sama.

Namun, karena berstatus sebagai runner up, Vito tak diperkenankan untuk berangkat.

"Kemarin tuh yang berangkat ada dua orang, dan saya peringkat tiga," terangnya.

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved