Teater Satu Lampung

Teater Satu Lampung adalah teater kebanggaan Lampung yang sudah tampil di hampir seluruh provinsi di Indonesia hingga mancanegara.

Penulis: Kiki Novilia
Editor: Ami Heppy
Dokumentasi: Iswadi Pratama.
Aruk Gugat karya Iswadi Pratama di Taman Budaya Lampung 2019. 

Sebab, seni adalah kerja intelektualitas yang memiliki banyak unsur rasional, logika, dan tidak semata-mata soal perasaan.

Ketika Teater Satu Lampung memainkan lakon adaptasi dari luar negeri, maka akan dipelajari secara keseluruhan mulai dari latar belakang penulis, tempat, kondisi pada saat itu dan segala detail lainnya.

Seluruh materi di kelas tersebut diampu oleh Iswadi Pratama yang sebelumnya telah banyak membaca tentang materi terkait.

Di samping itu, ada latihan naskah, seni peran dan yang berkaitan dengan pementasan.

Untuk bisa mementaskan suatu karya baru, para aktor diperlukan sedikitnya 100 kali latihan.

Sedangkan untuk pentas ulang bisa jauh lebih singkat.

Dalam setahun, Teater Satu Lampung minimal menggelar tiga kali pementasan.

Seluruh perlengkapan mulai dari make up, kostum, properti dan lain sebagainya diurus secara mandiri oleh Teater Satu Lampung.

Eksklusif di Lampung

Eksistensinya yang sudah mendunia, banyak yang meminta Teater Satu Lampung membuka cabang di luar Lampung.

Lakon Antropodipus karya Sophocles, 2018.
Lakon Antropodipus karya Sophocles, 2018. (Dokumentasi: Iswadi Pratama.)

Meski begitu, Teater Satu Lampung tidak membatasi jikalau ada yang anggota dari luar Lampung yang ingin berlatih di sana.

Keeksklusifan tersebut dipengaruhi oleh prinsip pendirinya yakni Iswadi Pratama.

Maestro sastra dan budaya ini ingin membangun daerahnya menjadi lebih maju dan enggan beranjak begitu saja.

Sejauh ini Teater Satu Lampung telah menjelajahi hampir seluruh provinsi di Indonesia dan mancanegara seperti Melbourne, Kuala Lumpur, Jepang, Jerman, Sydney dan lain sebagainya.

Selain itu, ada juga anggota Teater Satu Lampung yang dikontrak oleh Robert Wilson dan Tadashi Suzuki.

Gua dan Bungker Jepang di Bandar Lampung

Aplikasi Kubuku, Perpustakaan Berbasis Android buat Baca Ebook Gratis

Kerjasama

Kursi-Kursi Karya Eugene Ionesco, Lampung dan Jakarta 2019.
Kursi-Kursi Karya Eugene Ionesco, Lampung dan Jakarta 2019. (Dokumentasi: Iswadi Pratama.)

Dalam melaksanakan programnya, Teater Satu Lampung menjalin kerjasama dengan beberapa pihak baik dari pemerintahan atau Non Government Organization (NGO).

Kerjasama pertama dijalin dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung dan Taman Budaya.

Bersama mereka, Teater Satu Lampung menggelar workshop sastra dan teater untuk pelajar, diskusi seni dan kebudayaan serta penyelenggaraan festival seni.

Sementara dengan NGO Teater Satu bekerjasama dalam program-program penyuluhan atau kampanye dengan menggunakan media teater rakyat.

Diantaranya adalah Hivos, Watala, KoAK (Komite Anti Korupsi) Lampung, DAMAR (NGO advokasi terhadap perempuan dan anak korban kekerasan) Lampung, USAID, dan masyarakat Uni Eropa.

Tak hanya menghasilkan karya-karya pertunjukkan, Teater Satu juga melaksanakan program-program penelitian seni dan kebudayaan lokal, diskusi, pelatihan, apresiasi, kelas sastra, kelas pemeranan dan penyutradaraan, serta tengah merintis penerbitan.

Karya

Kursi-Kursi karya Eugene Ionesco Lampung dan Jakarta 2019.
Kursi-Kursi karya Eugene Ionesco Lampung dan Jakarta 2019. (Dokumentasi: Iswadi Pratama.)

Hingga saat ini, Teater Satu Lampung telah mementaskan lebih dari 50 pertunjukkan lakon yang ditulis oleh pengarang Indonesia maupun luar negeri.

Intip Perjalanan Karier Bapak Podcaster Lampung Gery Dwi Septa Ardian

Ramah Milenial, Kantor Pos Bandar Lampung Luncurkan Aplikasi Posgiro Mobile

Berikut ini adalah beberapa karya Teater Satu Lampung:

  1. Kapai-Kapai karya Arifin C. Noer (1997)
  2. Jerit Tangis Malam Butta karya Rolf Laukner (1998)
  3. Umang-Umang karya Arifin C. Noer (1998-2000)
  4. Waiting for Godot karya Samuel Beckett (2000)
  5. Nostalgia Sebuah Kota karya Iswadi Pratama, meraih GK Award 2003 untuk kategori Naskah Terbaik, Sutradara Terbaik, Aktris Terbaik, Grup Terbaik; mendapat Hibah Seni Kelola 2004, dipentaskan di IPAN Nusa Dua dan dipentaskan oleh kolaborasi seniman Indonesia, Jerman, Belanda, Spanyol, Hungaria, dan Pantai Gading di Koln, Jerman (2010)
  6. Monolog Perempuan Pilihan karya Iswadi Pratama (2005)
  7. Ontosoroh adaptasi dari Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (2006, bekerjasama dengan PRM, Faiza Marzoeki, lakon ini dipentaskan di kabupaten-kabupaten di Lampung dalam dua hari pementasan dihadiri oleh 1.000 penonton
  • Monolog Perempuan di Titik Nol karya Nawal el Sadari (di Teater Utan Kayu, Kuala Lumpur, Australia, 2007; Salihara, 2008 dan mendapat anugerah Pertunjukan Teater Terbaik 2008 dari majalah Tempo)
  • Aruk Gugat karya Iswadi Pratama (sejak diproduksi pada 1998 lakon ini telah dipentaskan sebanyak 83 kali)
  • Monolog Wanci (2007, kerap menjadi bahan penelitian akademis, telah dipentaskan sebanyak 17 kali oleh Putu Wijaya lakon yang dimainkan oleh Ruth Marini ini disebut sebagai monolog terkuat di Indonesia)
  • Kisah-Kisah yang Mengingatkan karya Iswadi Pratama (2008, mendapat Hibah Kelola, main di Art Summit 2010 dan Ubud Writers and Readers Festival 2012)
  • Buku Panduan Belajar dan Mengajar Teater untuk Guru dan Siswa (2010)
  • Visa karya Goenawan Mohammad (2011, Komunitas Salihara)
  • Anak yang Dikuburkan karya Sam Shepard (2012, di Forum Lakon Adaptasi Salihara, meraih penghargaan Pentas Teater Terbaik 2012 dari majalah Tempo.

(Tribunlampungwiki.com/Kiki Novilia)

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved