Iswadi Pratama: Dari Tukang Bakso ke Maestro

Peran pertama Iswadi Pratama di dunia teater adalah tukang bakso yang pandai bercerita.

Penulis: Kiki Novilia
Editor: Ami Heppy
Dokumentasi: Iswadi Pratama.
Lakon Antropodipus karya Sophocles, 2018. 

TRIBUNLAMPUNGWIKI.COM, BANDAR LAMPUNG - Seorang maestro sastra dan teater bernama lengkap Iswadi Pratama lahir dan menetap di Lampung.

Ia tercatat telah menyutradarai puluhan karya teater dan pentas di hampir seluruh provinsi Indonesia serta di berbagai negara.

Bermula dari kegemarannya membaca buku sastra ketika mengenyam pendidikan menengah atas, Iswadi akhirnya terjun ke dunia sastra.

Ia mulai menulis puisi dan didapuk untuk menulis skenario drama merangkap menjadi sutradara di tugas sekolah.

"Saya praktikkan bersama dengan teman-teman di sekolah untuk tugas bahasa Indonesia," kata Iswadi sambil mengenang.

Potret maestro sastra dan teater dari Lampung Iswadi Pratama.
Potret maestro sastra dan teater dari Lampung Iswadi Pratama. (Dokumentasi: Iswadi Pratama.)

Iswadi Pratama, Maestro Sastra dan Teater Dari Lampung

Mekhanai Lampung 2019 Muhammad Firly Ramadhan Eksplorasi Diri Lewat Organisasi

Ketika SMA pula, Iswadi bergabung dengan teater pertamanya di Teater Krakatoa, Lungsir.

Teater tersebut ia ketahui dari teman-temannya yang sama-sama hobi menulis.

"Waktu itu belum jadi aktor, masih ikut-ikutan lihat orang latihan," katanya menambahkan.

Selepas masuk kuliah di jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Lampung (Unila), Iswadi mulai menggelutinya dengan lebih serius.

Selain Teater Krakatoa, ia juga menjadi bergabung dengan wadah seni kampus yakni Badan Seni Mahasiswa Indonesia (BSMI).

"Peran pertama waktu itu yang di BSMI jadi pengembara, kalo yang di Krakatoa saya dapat peran namanya Paimin, seorang tukang bakso," paparnya.

Iswadi menuturkan, Paimin adalah peran pertama yang berkesan baginya.

"Paimin itu peran utama yang berprofesi jadi tukang bakso yang suka bercerita atau mendongeng," kata Iswadi Pratama.

Kisahnya bermula ketika Paimin melakukan perjalanan menggunakan bus dan masuk ke hutan.

Dengan segala kepandaiannya mendongeng, Paimin diceritakan sebagai tokoh yang mampu menghipnotis para pendengarnya.

Suguhkan Materi Jempolan, Happy Camp Institute Harap Mampu Bentuk Karakter Baik

Aplikasi Kubuku, Perpustakaan Berbasis Android buat Baca Ebook Gratis

Untuk bisa mendalami peran tersebut, Iswadi bahkan melakukan observasi dengan tukang bakso asli.

"Teman saya ada yang bapaknya tukang bakso, jadi saya setiap hari menyempatkan dorong gerobak bakso," katanya.

Dari peran tersebut, ia kian jatuh cinta dengan dunia seni peran.

Ia bisa mengobservasi secara langsung, mengenal dan memahami kehidupan orang lain.

"Saya banyak berbincang dengan para tukang bakso tentang kehidupan mereka, berapa porsi yang terjual tiap harinya dan hal-hal sederhana lainnya," kata Iswadi.

Kariernya di bidang tersebut juga selalu mendapat dukungan dari sang ibu.

"Ibu saya hanya berpesan, kalau berani jangan takut-takut, tapi kalau takut jangan sok berani-berani, artinya siap dengan keputusan yang dipilih," jelasnya.

Beruntung, Iswadi dibesarkan dalam keluarga yang cukup demokratis.

Selama bisa mempertanggungjawabkan keputusan yang diambil, tak ada hambatan atau rintangan yang berarti.

Ketika ditanya tentang anggapan umum tentang kelanjutan hidup seorang seniman, Iswadi mengaku tak ambil pusing.

Baginya, yang paling penting adalah selalu membekali diri dengan ilmu dan keterampilan.

"Saya pernah ditanya seorang teman tentang cara saya menghidupi keluarga, tapi saya tidak menggantungkan hidup saya pada apapun termasuk pekerjaan, tapi hanya pada Tuhan," jelasnya mantap.

Komunitas Jendela Lampung

Trik Jadi Relawan Pendidikan di Daerah Marjinal TPA Bakung Bandar Lampung

Ia berprinsip, pekerjaan yang dilakoni harus sesuai passion atau bidang yang telah diniatkan untuk ditekuni agar merasa bahagia ketika menjalaninya.

Uniknya, Iswadi tidak melanjutkan studinya di bidang seni, melainkan ilmu pemerintahan.

"Saya pas kuliah sebenernya minat di jurusan filsafat, jadi daftar di ilmu pemerintahan Unila, sama filsafat UGM," ujarnya.

Kedua pilihan tersebut akhirnya sama-sama lulus, akan tetapi karena ayahnya meninggal dan rasa tak tega meninggalkan sang ibu sendirian, Iswadi kemudian memutuskan untuk kuliah di Lampung.

Selama menjalani perkuliahan, tak ada rasa menyesal dalam benak Iswadi.

Ia mengatakan menyukai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan manusi dan masyarakat.

"Saya tidak pernah bercita-cita menjadi aparatus negara, saya kuliah di sana karena saya senang ilmunya yang di dalamnya juga mencakup seni dan budaya," tegasnya.

(Tribunlampungwiki.com/Kiki Novilia)

Sumber: Tribun Lampung

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved